Antara Bencana dan Pencitraan: Ketika Musibah Menjadi Panggung
By Admin on Dec 11, 2025

Oleh: Agus setiyono*)
Di negeri yang tanahnya subur, bukan hanya padi yang tumbuh cepat— pencitraan pun kerap lebih gesit dari niat baik. Setiap kali bencana datang, kita seperti membaca bab baru dari naskah yang sama: gemuruh alam disusul gemuruh kamera, jerit warga ditimpa deru rombongan pejabat, dan tenda pengungsian berubah menjadi panggung konferensi pers.
Musibah memang tidak pernah meminta untuk datang, namun kedatangannya selalu mengundang banyak tamu. Ada yang datang dengan tangan yang benar-benar ingin menolong, ada pula yang datang membawa tangan—serta kamera, drone, tim dokumentasi, lengkap dengan angle pencahayaan terbaik.
Karena di zaman sekarang, dermawan itu bukan hanya soal seberapa besar donasinya, melainkan seberapa besar donasi itu tampak di media sosial.
Ketika Niat Baik Bertemu Sorot Lampu
Secara sosiologis, tindakan memberi pada saat bencana adalah perilaku altruistik yang lahir dari empati. Namun dalam praktiknya, empati itu sering kehilangan keaslian ketika dipaksa tersenyum di depan kamera.
Ada relawan yang datang diam-diam, membantu lalu menghilang tanpa jejak. Ada pula yang datang dengan rombongan layaknya shooting sinetron episode spesial bencana alam. Lengkap dengan rompi baru, sepatu baru, bahkan ekspresi sedih yang direvisi oleh fotografer: “Pak, mukanya tolong agak prihatin, ya. Sekali lagi. Dan tahan… perfect!”
Orang-orang yang datang dengan keikhlasan tulen biasanya gelisah melihat ini. Sementara mereka yang datang demi pencitraan justru merasa ini adalah kesempatan emas untuk menaikkan engagement rate. Bencana tak ubahnya background dramatis yang mempercantik personal branding.
Bahwa ada korban yang kehilangan rumah? Iya.
Bahwa ada pejabat yang kehilangan momentum tampil? Lebih iya lagi.
Antara Relawan, Dermawan, dan “Demi-demi Donatur”
Dalam ilmu perilaku, motif pemberian terbagi dua: intrinsik (murni dari hati) dan ekstrinsik (keuntungan luar, seperti popularitas). Kedua motif ini memang selalu ada. Yang membedakan hanya dosisnya.
Tidak sedikit yang datang sungguh-sungguh ingin menolong: mereka mendengar derita rakyat lebih keras daripada deru notifikasi media sosial. Mereka itu para dermawan yang namanya tidak viral, namun amalnya diam-diam mengalir.
Namun ada juga kelompok yang hanya menolong ketika ada kamera menyorot. Mereka adalah spesies modern dalam ekosistem bantuan bencana: Homo Pencitraensis. Mereka datang dengan jargon “peduli”, namun yang paling mereka pedulikan adalah jumlah konten yang bisa dipanen.
Sumbangannya tidak jarang lebih kecil daripada biaya produksi video dokumentasinya.
Bencana yang Disulap Menjadi Branding
Fenomena ini tidak tumbuh dalam ruang hampa. Di era algoritma, kepedulian bisa dikomodifikasi. Sebuah unggahan empati bisa meningkatkan citra publik, menggeser persepsi, hingga mengangkat popularitas seseorang. Dengan kata lain, bencana bisa menjadi “investasi sosial” yang menguntungkan.
Dalam perspektif sosiologi media, bencana adalah drama realitas yang memancing emosi publik. Dan di situlah banyak pihak berlomba hadir bukan untuk meredakan drama, melainkan menjadi pemeran utamanya.
Padahal warga terdampak bencana tidak butuh aktor.
Mereka butuh manusia.
Antara Tulisan di Poster dan Tindakan di Lapangan
Di lokasi bencana, ada yang datang menggendong beras. Ada pula yang datang menggendong banner.
Ada yang membawa air mineral. Ada yang membawa media partner.
Ada yang menatap warga. Ada yang menatap drone.
Padahal sejatinya, bantuan adalah bahasa kasih sayang yang paling sederhana. Namun ketika dibalut pencitraan, ia berubah menjadi bahasa iklan.
Warga butuh selimut, bukan slogan.
Butuh makanan, bukan tagline.
Menutup Drama, Mengembalikan Esensi
Tidak ada yang salah dengan mendokumentasikan bantuan, selama hal itu bertujuan transparansi dan akuntabilitas. Yang menjadi persoalan adalah ketika niat lebih kecil daripada narsis, dan ketika musibah berubah menjadi latar untuk memoles reputasi.
Bencana harusnya menyatukan rasa kemanusiaan, bukan menjadi kontes siapa paling peduli di layar gawai.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling sering muncul di foto bantuan.
Sejarah hanya mencatat siapa yang benar-benar meringankan beban sesama.
Dan di hadapan bencana, hanya keikhlasanlah yang memiliki nilai paling panjang umurnya—lebih panjang dari masa tayang konten apa pun.
Wallahu a'lam bish shawab