PWM Jambi

Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Milad ke-113 Muhammadiyah di Merangin: Terlambat yang Bermakna, Sunyi yang Berbuah Amal

By Admin on Dec 15, 2025

Milad ke-113 Muhammadiyah di Merangin: Terlambat yang Bermakna, Sunyi yang Berbuah Amal

Oleh: Agus setiyono*)

Meski sedikit terlambat dari kalender resmi Persyarikatan, peringatan Milad Muhammadiyah ke-113 yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Merangin pada 14 Desember 2025 justru membuktikan satu hal penting: bahwa makna tidak selalu lahir dari ketepatan waktu, melainkan dari ketepatan niat dan kesungguhan gerak. Terlambat secara tanggal, namun sama sekali tidak kehilangan momen—apalagi ruh perjuangan.

Resepsi Milad yang berlangsung semarak itu menjelma menjadi ruang perjumpaan antara ide, amal, dan empati. Aula kegiatan dipenuhi denyut kebersamaan warga Persyarikatan, Ortom, pendidik, serta unsur pemerintah daerah. Sebuah potret kecil tentang Muhammadiyah yang terus hidup—bukan sekadar dalam spanduk dan seremoni, tetapi dalam kerja nyata yang berdenyut di tengah umat.

Hadir langsung Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jambi, H. Suhaimi Chan, yang sekaligus menjadi narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak bertumpu pada figur, melainkan pada kesadaran kolektif yang terus dirawat lintas zaman.

> “Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh satu atau dua tokoh, melainkan oleh semangat berjamaah yang terus dirawat lintas generasi,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penanda penting di tengah kecenderungan zaman yang kerap mengultuskan individu dan melupakan kerja kolektif. Ia juga mengingatkan agar warga Persyarikatan semakin menguatkan kerja sama, saling menopang antarstruktur dan Ortom. Menurutnya, Muhammadiyah hanya akan tetap besar jika semangat berjamaah lebih menonjol daripada ego personal maupun sektoral. Kritik itu disampaikan tanpa nada menggurui—halus, tetapi menghunjam.

Rangkaian Milad tidak berhenti pada pidato dan sambutan. Bersama Ortom—IPM, IMM, dan ‘Aisyiyah—serta para guru sekolah di lingkungan PDM Merangin, panitia menyelenggarakan berbagai perlombaan tingkat TK, hingga seluruh unsur pendidikan yang ada di Kabupaten Merangin. Kegiatan ini diprakarsai melalui kolaborasi sinergis antara IPM, IMM, dan majelis guru. Anak-anak berlomba, pemuda bergerak, guru mendampingi—sebuah laboratorium kaderisasi yang hidup dan membumi.

Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan tujuan yang lebih dalam: penggalangan dana kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari rangkaian lomba dan aksi solidaritas tersebut, berhasil dihimpun donasi kurang lebih Rp22.000.000. Angka yang mungkin tampak sederhana, tetapi menjadi sangat bermakna ketika diterjemahkan sebagai harapan bagi mereka yang kehilangan rumah, sanak, dan rasa aman.

Seluruh jajaran PDM Merangin hadir lengkap, disertai seluruh Ortom di Kabupaten Merangin. Pada kesempatan yang sama, Ketua PDM Merangin Drs. Saniman menyampaikan capaian penting: berhasil dihimpun dana sebesar Rp300.000.000 untuk rencana pembangunan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, dan pengumpulan dana langsung dikoordinir oleh bendahara PDM Merangin H. Azwar effendi ( biasa dipanggil H. Buyung ). Sebuah ikhtiar jangka panjang yang menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya tanggap terhadap bencana, tetapi juga konsisten menanam fondasi peradaban.

Acara ini turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Wakil Ketua Pengadilan Agama, unsur TNI dan Polri, DPRD, Ketua MUI, serta Pemerintah Kabupaten Merangin yang diwakili oleh Asisten I. Kehadiran lintas institusi tersebut menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai mitra strategis umat dan negara—hadir bukan sekadar sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai penggeraknya.

Milad ke-113 Muhammadiyah di Merangin akhirnya menjadi satire indah bagi zaman: ketika banyak perayaan habis dalam sorak dan dokumentasi, Muhammadiyah justru memilih jalan sunyi—menghimpun donasi, membangun sekolah, dan merawat semangat berjamaah. Terlambat satu hari, tetapi tepat sasaran. Tidak gaduh, namun berbuah amal. Sebab bagi Muhammadiyah, usia bukan sekadar angka, melainkan rekam jejak pengabdian yang terus ditulis dengan kerja nyata.

← Back to Posts