Satu Abad NU : Guyonan Panjang menuju peradaban mulia
By Admin on Jan 31, 2026
Oleh: Agus setiyono*)
Satu abad sudah Nahdlatul Ulama menjejakkan kaki di tanah sejarah Indonesia.
Sejak kelahirannya pada 31 Januari 1926, NU hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai denyut kebudayaan—yang bergerak pelan, namun dalam; yang tampak sederhana, tetapi menyimpan daya tahan luar biasa.
NU lahir dari rahim kegelisahan para ulama pesantren, dipimpin oleh sosok agung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari—seorang alim yang memahami bahwa agama tidak boleh tercerabut dari tanah tempat ia tumbuh. Empat belas tahun setelah Muhammadiyah berdiri dengan semangat tajdid dan modernisasi, NU datang membawa jalan yang berbeda: menjaga tradisi, merawat sanad, dan meneguhkan Islam sebagai rumah yang ramah bagi kearifan lokal.
Perbedaan itu sejak awal bukanlah jarak, melainkan dialektika. Sebab sejarah Indonesia memang dibangun bukan oleh satu warna, tetapi oleh harmoni banyak corak.
Dan NU memilih menjadi warna yang bersahaja—kadang terlihat sederhana di mata zaman, namun justru di sanalah ia menyatu dengan lapisan panjang perjalanan bangsa.
Pada Harlah ke-100 ini, NU mengusung tema besar:
“Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.”
Sebuah tema yang terdengar tenang, namun sesungguhnya berat. Karena merdeka bukan lagi soal mengusir penjajah, melainkan mengusir keserakahan dari dalam diri; bukan sekadar menjaga kedaulatan wilayah, tetapi merawat keadaban publik; bukan hanya mempertahankan negara, melainkan memastikan akal sehat dan akhlak tetap hidup di tengah hiruk-pikuk zaman.
Seratus tahun perjalanan NU tentu tidak steril dari dinamika. Konflik ada. Perbedaan pandangan mengemuka. Bahkan kadang riuh dan terasa kusut. Namun di situlah keunikan NU bekerja. Ketegangan seringkali diselesaikan bukan dengan podium tinggi dan suara lantang, melainkan dengan secangkir kopi, sebatang rokok, dan—yang paling khas— guyonan.
Guyonan ala NU bukan sekadar candaan. Ia adalah mekanisme sosial, terapi kultural, sekaligus filsafat hidup. Ketika perdebatan mulai panas, guyonan datang menurunkan tensi. Ketika ego meninggi, tawa kolektif mengingatkan bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Dalam NU, serius itu penting, tapi terlalu serius seringkali berbahaya.
Di situlah kekuatan NU: kesolidan yang lahir dari kekeluargaan. Dari rasa “satu dapur sejarah” yang membuat perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. NU mungkin sering tampak lamban, bahkan kadang dianggap ketinggalan zaman. Namun justru kelambanan itulah yang membuatnya tidak mudah tergelincir. NU bergerak seperti sungai besar—tidak gaduh di permukaan, tetapi pasti mengalir menuju muara.
Seratus tahun NU adalah bukti bahwa tradisi tidak selalu menjadi beban, dan moderasi bukanlah sikap abu-abu. NU telah membuktikan bahwa Islam, Indonesia, dan kebudayaan lokal dapat berdamai tanpa harus saling meniadakan. Bahkan di tengah perubahan global yang serba cepat, NU tetap berdiri dengan prinsip lama yang terus relevan: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Satu abad NU bukan penutup buku sejarah, melainkan pembuka bab baru. Tantangan ke depan tidak lebih ringan, tetapi NU telah terlatih hidup dalam kompleksitas. Dengan ilmu, tradisi, dan guyonan khasnya, NU terus mengawal Indonesia—bukan hanya agar tetap merdeka, tetapi agar pantas disebut beradab.
Dan mungkin, di situlah rahasianya:
Indonesia yang terlalu tegang butuh NU untuk tersenyum.
Indonesia yang terlalu gaduh butuh NU untuk menertawakan ego sendiri.
Sebab peradaban mulia tidak selalu lahir dari pidato panjang, tetapi sering tumbuh dari kebijaksanaan yang mampu bercanda tanpa kehilangan arah.
*) Sekretaris PW Muhammadiyah Jambi